Hati-hati dengan Karyawan Pria, Mereka Suka Berpura-pura

Kamis, 12 Oktober 2017 | 00:00 WIB
Hati-hati dengan Karyawan Pria, Mereka Suka Berpura-pura

Akui saja bahwa kita, para karyawan kantoran, pasti pernah berada di kondisi sok sibuk dan pura-pura lagi banyak pekerjaan demi terlihat menyakinkan di depan atasan. Karyawan pria dan wanita, umumnya pasti pernah melakukannya.

Namun, menurut penelitian yang digagas sebuah perusahaan konsultan dan dipimpin oleh Profesor Erin, membeberkan bahwa aksi sok sibuk di kantor lebih sering dikerjakan karyawan pria ketimbang karyawan wanita. Tujuannya, tentu saja, untuk mendapatkan bonus lebih, tambahan jatah cuti, dan promosi jabatan.

Lucunya, Profesor Erin mengatakan, para karyawan pria yang hobi pura-pura sibuk ini biasanya sering melontarkan komentar negatif yang tidak penting saat sedang meeting.

Studi ini melibatkan 100 karyawan yang diseleksi menjadi tiga kategori. Pertama, karyawan gila kerja. Kedua, karyawan tidak terlalu ambisius. Lalu, ketiga, karyawan yang seolah-olah gila kerja.

Kategori pertama, kata Profesor Erin, merupakan karyawan yang sedikit bicara banyak bekerja. Mereka tidak pernah mengeluh jika harus melakukan perjalanan bisnis yang panjang, bahkan sering kali mereka lembur tanpa bayaran lebih. Oleh karena itu, tipe karyawan ini selalu unggul dalam penilaian kerja.

Selanjutnya, Profesor Erin, tidak menjelaskan mengenai karyawan di kategori kedua, dan langsung memaparkan definisi karyawan kategori ketiga.

Pada kategori ketiga, karyawan yang dinilai si sok sibuk atau pura-pura kerja, biasanya sering berbohong demi menghindari aturan atau melindungi diri dari pelanggaran. Mereka lebih senang berada di dalam kantor.

Lalu, tipe karyawan ini selalu mengusahakan koordinasi dengan partner kerja atau anak buah agar waktu kerja mereka lebih sedikit. Mereka bisa dibilang adalah karyawan yang bekerja sesuai “argo” tetapi sering mengeluh dan meminta lebih pada perusahaan.

“Mereka selalu berupaya agar lingkup klien mereka berlokasi dekat kantor supaya mereka tidak terlalu banyak keluar meeting. Mereka lihai menghindar dari perjalanan bisnis yang panjang dan membosankan. Lalu, mereka cukup cerdas menciptakan alasan untuk tidak ke kantor demi menghabiskan banyak waktu dengan keluarga. Mereka mengatur sedemikian rupa agar tidak menarik perhatian, terutama perhatian si bos,” urai Profesor Erin.

Mereka yang termasuk kategori ketiga, biasanya sering mendekati karyawan yang masih lajang atau memiliki anak lebih sedikit dari mereka. Tujuannya adalah melobi agar pengaturan waktu kerja lebih fleksibel.

Strategi itu sangat mudah diterapkan oleh si karyawan yang hobi pura-pura sibuk kerja, mereka cenderung egois karena lebih mementingkan pengaturan waktu kerja yang menguntungkan diri sendiri.

Sialnya, si karyawan culas ini pandai mengambil hati atasan. Jadi, mereka akan mengerahkan “kemampuan” sok sibuk itu saat atasan sedang ada di kantor atau di dekat atasan. Alhasil, si bos pun melihatnya sebagai karyawan berdaya guna, padahal sebenarnya mereka tidak sehebat kebohongannya tersebut.

Referensikan teman kamu