Banyak Pekerja Malas ke Kantor dengan Kendaraan Umum

Rabu, 9 Agustus 2017 | 00:00 WIB
Banyak Pekerja Malas ke Kantor dengan Kendaraan Umum

Mayoritas pekerja berpenghasilan di atas Rp 5 juta adalah orang-orang yang enggan menggunakan transportasi umum, dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi menuju kantornya.

Hal itu diperoleh berdasarkan survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai Kopi) Universitas Paramadina terhadap para pekerja yang memiliki penghasilan di atas Rp 5 juta. Mereka adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia kerja yang berhubungan dengan bidang perbankan ataupun jasa keuangan, jabatan minimal asisten manajer atau sederajat.

Hasil survei terhadap pekerja di kawasan bisnis Jakarta memperlihatkan 80,4 persen responden menggunakan kendaraan pribadi daripada kendaraan umum 13,6 persen, sedangkan 6 persen tidak menjawab, kata pollster Kedai Kopi, melalui keterangan tertulisnya.

Survei Kedai Kopi dilakukan terhadap 250 responden yang merupakan pekerja kantoran yang tempat kerjanya berlokasi di kawasan segi tiga emas, meliputi Jalan Sudirman, Thamrin, dan Rasuna Said.

Survey mengatakan, sekitar 37,2 persen responden mengatakan, jarak tempuh menuju kantor dari tempat tinggalnya adalah 30-60 menit. Ada juga yang menyatakan 60-90 menit, yang jumlahnya sekitar 34,8 persen responden.

Adapun 12,8 persen responden lainnya mengatakan, jarak tempuh menuju kantor dari tempat tinggalnya adalah di atas 90 menit; 10 persen responden mengatakan kurang dari 30 menit; dan sisanya, 5,2 persen, tidak menjawab.

Selain enggan menggunakan transportasi umum secara rutin, para responden juga tidak mau menggunakan transportasi umum reguler dalam situasi yang membuat mereka tidak bisa menggunakan mobil pribadinya.

Sebab, menurut survey, 56,4 responden lebih memprioritaskan penggunaan taksi; 14 persen untuk transjakarta; 13,6 persen untuk kereta rel listrik; 6 persen untuk bus kota; 4,8 persen untuk ojek; 0,8 persen untuk bajaj; 0,8 persen untuk sepeda; dan 3,6 persen memilih tidak menjawab.

"Taksi dianggap kendaraan umum paling nyaman ketimbang transportasi massal, seperti transjakarta atau bus kota," ujar dia.

Survei Kedai Kopi menggunakan pemilihan sampel dengan metode purposive sampling. Proses pengumpulan data dilaksanakan pada pertengahan tahun 2015 melalui wawancara tatap muka dan menggunakan kuesioner terstruktur.

Dengan tumbuhnya modus transportasi baru seperti ojek dan taksi online, apakah trend ini sudah bergeser sepertinya perlu untuk melihat hasil survey terbaru.

Pemerintah dan pihak terkait perlu menggali lebih serius alasan-alasan warga kota menggunakan moda transportasi tertentu. Harapannya, ketika proyek MRT selesai, pemerintah menemukan alasan yang tepat agar masyarakat mau beralih. Semoga produktifitas warga Jakarta tidak dihabiskan di jalan.

 

Tim KompasKarier

Referensikan teman kamu