Investasi Bagi Pekerja yang Terjangkau, Minim Risiko dan Besar Untungnya

Kamis, 13 Juli 2017 | 00:00 WIB
Investasi Bagi Pekerja yang Terjangkau, Minim Risiko dan Besar Untungnya

Seorang mahasiswi yang sadar bahwa menabung semakin tidak relevan dengan keuntungan menarik di kemudian hari, berpendapat bahwa slogan menabung pangkal kaya nampaknya menjadi semakin tidak terbukti.

Lebih jauh, dia mengatakan ingin segera berinvestasi, tapi merasa perlu menghindari risiko karena sebagai orang muda yang memiliki keterbatasan dana dan pengetahuan.

Pada sebuah seminar, dia bertanya mengenai investasi apa yang tepat, yang bisa dimulai sedikit-sedikit, namun bukan berinvestasi pada properti. Meski menurutnya, investasi properti minim risiko dan berpotensi menguntungkan besar.

Pertanyaan ini menarik. Sebelum menjawabnya, sebetulnya, penulis sudah tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa sebagai pemula yang masih muda, justru takut dalam mengambil risiko lebih tinggi.

Berbeda ketika dahulu penulis memulai berinvestasi beberapa tahun lalu, tepatnya 12 tahun yang lalu. pengetahuant bahwa sebagai seorang awam, tidak ada masalah dengan suatu hal berisiko. Toh masih muda dan keinginan mau mempelajari ilmu akan investasi bagi bekal di kemudian hari.

Justru terbalik pada hal yang seharusnya dihindari. Ada sebuah kisah nyata tetang seorang karyawan yang mendapatkan kesempatan untuk pensiun lebih cepat di usia 50 tahun dan mendapatkan sejumlah dana pensiun.

Setelah pensiun dipercepat dikabulkan, uang pesangon diterima, bapak tersebut menyadari bahwa uang pesangonnya tidak mampu mencukupi biaya sisa hidup. Bahkan tidak bisa melebihi usia 60 tahun.

Maka, keputusan bapak itu adalah dengan menggunakan dana pesangonnya untuk mulai berusaha.

Alih-alih berhasil, usaha tersebut gagal, dan malah menghilangkan uang pesangon yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Banyak yang terjadi, ketika justru semakin tua, orang malah berani mengambil risiko yang seharusnya tidak layak untuk diambil.

Anehnya, seorang anak muda yang memiliki waktu perjalanan lebih panjang, tanggungan hidup yang boleh dikatakan belum ada, justru takut dalam mengambil sebuah peluang yang disertai risiko.

Prinsip makin tua semakin nekat sebaiknya kita hindari. Itu karena waktu untuk memulai kembali ketika kita sudah mengalami sebuah kegagalan menjadi semakin sempit.

Berbicara mengenai instrumen investasi yang minim risiko dan besar hasilnya, selama saya mengenal dunia investasi, hal itu bisa dibilang antara ada dan tiada.

Hukum high riskhigh gain (tinggi risiko, tinggi potensi keuntungan) masih terus berlaku. Ketika sebuah investasi memiliki potensi keuntungan besar maka tinggi risikonya juga akan berjalan berdampingan.

Bila kita memilih saham yang relatif aman, katakanlah saham dari perusahaan yang produknya digunakan hampir oleh semua orang dan telah berusia 100 tahun, maka potensi keuntungannya akan menjadi lebih kecil.

Ini karena risiko kebangkrutan menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan perusahaan yang kadang untung dan kadang rugi, yakni potensi naik tinggi dan juga potensi rugi tinggi.

Pada investasi, akhirnya saya berpendapat bahwa memang benar risiko tinggi, potensi hasil akan tinggi. Namun bisa saja risiko rendah, namun hasilnya relatif tinggi bila menambahkan faktor waktu.

Seperti saat berinvestasi pada saham yang berusia 100 tahun di atas sekalipun, memilikinya dalam hitungan hari jelas beresiko naik (untung) dan turun (rugi). Namun dalam jangka waktu lebih panjang, misalnya 5 tahun, grafik pergerakan harga saham tersebut bisa cenderung mengalami kenaikan.

Sebuah akhir kesimpulan perihal seorang yang lebih muda adalah ia lebih bisa berteman dengan risiko. Alasannya sederhana. Bahwa masih muda dan kalau gagal sekalipun, waktu masih lebih panjang.

Justru dengan menjadi semakin tua, mengambil sebuah risiko yang mengakibatkan kegagalan besar yang menghabiskan dana maka hal tersebut sangat berbahaya karena waktu untuk memulai lagi setelah kegagalan terjadi menjadi lebih sempit.

Selain itu, investasi yang memiliki keuntungan besar dengan risiko kecil dalam waktu yang sempit selama ini belum bisa ditemukan.

Namun memahami resiko yang bisa ditanggung membutuhkan kejujuran terhadap diri sendiri. Semakin jujur kita maka kita akan bisa melihat, rasa aman atau kesempatankah yang sejatinya kita inginkan

 

Tim KompasKarier

Referensikan teman kamu