Sulitnya Punya Usaha Sampingan

Senin, 10 Juli 2017 | 00:00 WIB
Sulitnya Punya Usaha Sampingan

Sudah satu bulan ini usaha sepi pelanggan. Tak ada uang mengalir masuk kas. Sementara itu, tagihan listrik dan air tetap harus dibayar.

Belum lagi gaji karyawan, yang tak bisa terlambat. Kepala pusing bukan kepalang, modal terus tergerus untuk keperluan operasional. Ah, begini rasanya nasib jadi pengusaha...

Siapkah Anda menghadapi masa-masa sulit membangun usaha seperti itu? Banyak orang tak menyadari asam garam harus ditempuh seorang pengusaha sebelum ia meraup kesuksesan.

Di benak kebanyakan orang, pengusaha dibayangkan selalu nyaman. Yang terlihat, para pengusaha tak terikat waktu kerja dan tidak perlu bertanggung jawab pada atasan karena bosnya, ya, memang dia sendiri.

Namun, benarkah sesederhana itu? Menurut Small Business Association (SBA), sekitar 30 persen bisnis baru terpaksa tutup buku dua tahun setelah dibuka, 50 persennya pada lima tahun pertama, dan 66 persen hanya bertahan 10 tahun. Bisnis yang mantap berjalan hingga lebih dari 15 tahun cuma sekitar 25 persen. 

Meski begitu, jangan dulu berkecil hati. Rentetan data di atas justru harus jadi motivasi bahwa usaha Anda bisa berada pada kategori 25 persen yang sukses. Bagaimana caranya?

Siap-siap…

Menjadi entrepeneur berarti Anda harus rela berperan sebagai bos sekaligus karyawan bagi diri sendiri. Jadi, alokasi waktu pun tidak main-main. Anda wajib siap siaga 24 jam selama tujuh hari, terlebih jika Anda masih dalam tahap merintis usaha.

Maksudnya, bukan berarti Anda harus bekerja terus-menerus tanpa istirahat. Namun, demi kelancaran bisnis, Anda harus merelakan waktu libur atau jam-jam istirahat untuk melayani pelanggan atau menangani urusan terkait usaha.

Bisnis kue kering, misalnya, akan banjir order menjelang Lebaran. Artinya, saat kebanyakan orang mulai bersiap cuti, Anda malah harus lembur bersama karyawan. Atau, usaha tour and travel biasanya ramai pada akhir pekan atau musim liburan sehingga Anda mau tak mau perlu mengorbankan hari libur pribadi.

Belum lagi, pelanggan atau investor tak selalu membuka tangan lebar-lebar untuk usaha Anda. Beragam bentuk penolakan bisa jadi makanan sehari-hari, usaha pun tak selalu berjalan mulus. Punya mental baja untuk selalu bangkit ketika menghadapi tantangan adalah mutlak, kalau mau sukses jadi pengusaha.

Jeli dan uji

Sah-sah saja mengikuti tren bisnis terkini sebagai patokan memulai usaha. Namun, apakah tren itu cocok dengan kemampuan kita? Sebaiknya bisnis disesuaikan dengan bidang yang dikuasai, kalau perlu jadilah pelopor tren bisnis.

Pada tahap ini perlu kejelian untuk mempertemukan kebutuhan dan selera masyarakat dengan kemampuan diri. Lalu, jangan sampai juga karyawan lebih menguasai produk dan operasional bisnis ketimbang si empunya. Jika dia hengkang, bisa jadi usaha yang susah payah dibangun malah merosot tajam.

Selain itu, sebaiknya uji dulu produk di "pasar" kecil. Bisa jadi, sate ayam bumbu kacang racikan Anda selalu ludes setiap acara santap bersama keluarga, misalnya. Itu bukan berarti ketika diangkat menjadi produk komersial, sate bikinan Anda akan digemari pembeli.

Lebih baik, ujilah sedapnya sate Anda kepada para relasi lain. Kalau perlu keluarkan sampel yang dibagikan gratis. Biarkan racikan itu dicicipi banyak orang, dan mintalah masukan kalau perlu. Hitungannya, ini bisa sekaligus jadi promosi, apalagi kalau racikan itu memang mantap.

Tempat dan perkakas

Sewa tempat usaha biasanya cukup menguras kantong Anda, apalagi untuk lokasi yang strategis. Jika Anda punya kenalan yang menyewakan ruang, cobalah menegosiasikan harga khusus, setidaknya untuk satu tahun pertama.

Kalau bisnis Anda masih bisa dijalankan dari rumah, lakukanlah. Jenis usaha pesanan kue, baju, atau sepatu yang dilakukan secara online, misalnya, kebanyakan tidak membutuhkan tempat khusus sehingga bisa menghemat biaya operasional.

Kesiapan Batin

Terlepas dari semua trik yang ada diatas, menjaga kesehetan mental menjadi prioritas agar anda bisa mengatasi masa sulit. Menjaga agar pikiran tetap jernih walaupun penuh tekanan merupakan modal utama sebagai pengusaha. Tetap optimis sekaligus realistis melihat kondisi tidaklah mudah.

Pertanyaan awal dalam berusaha bukanlah berapa modal yang dipersiapkan, namun perlu melihat apakah pribadi anda siap menghadapi kesulitan-kesulitan dalam berusaha.

Tim KompasKarier

Referensikan teman kamu