Memahami Keterampilan Berfikir Kritis

Jumat, 7 Juli 2017 | 00:00 WIB
Memahami Keterampilan Berfikir Kritis

Mengutarakan pendapat dalam suatu pertemuan internal perusahaan ataupun pertemuan eksternal dengan rekanan bisnis terkadang perlu penyesuaian gaya berbicara. Dalam pertemuan internal biasanya lebih bebas berekspresi dan mengungkapkan berbagai gagasan atau masukan. Sedangkan pertemuan eksternal yang biasanya bertemu dengan klien atau customers, terkadang kebebasan itu sedikit terbungkam karena perlu menjaga image” sebagai perwakilan perusahaan di depan klien. Namun ada kalanya kondisi ini berbalik ketika sebagai seorang profesional anda dapat berbicara dan menyampaikan pemikiran lebih nyaman dengan pihak eksternal ketimbang internal perusahaan. Bisa jadi karena budaya kerja di perusahaan yang demikian, atau memang ada individu pimpinan yang lebih senang menajalankan kepemimpinannya secara cascading top down.

 

Perusahaan ataupun pimpinan yang masih mempertahankan budaya seperti diatas tanpa dapat bersikap terbuka untuk mendengarkan gagasan serta pikiran tim yang dibawahnya, bisa jadi akan menghambat perkembangan bisnis perusahaan. Keputusan yang akan dihasilkan hanya berdasarkan sudut pandang pribadi tanpa mengevaluasi argumen pihak lain secara proporsional yang mungkin saja melihat dari kacamata berbeda. Kemampuan berfikir kritis merupakan suatu softskill yang dibutuhkan oleh pebisnis yang semakin hari semakin menjadi hal yang penting, jika dalam future of jobs report World Economi Forum pada tahun 2015 softskill ini berada pada rangking 4 (empat), pada tahun 2020 skill ini naik peringkat pada ranking 2 (dua) tertinggi softskill yang dibutuhkan semakin penting dalam organisasi bisnis.

 

Menurut Huitt, Ennis dalam Çimer, 2013, berpikir kritis didefinisikan sebagai aktivitas disiplin mental untuk berfikir reflektif dan masuk akal untuk mengevaluasi argumen atau proposisi untuk mengambil keputusan apa yang harus dipercaya atau dilakukan. Dalam meningkatkan kemampuan ini hal yang perlu diperhatikan adalah mengembangkan kemampuan berfikir reflektif, yakni pertimbangan yang aktif, terus menerus, dan cermat terhadap informasi atau keyakinan dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang mendukung serta keputusan yang dituntut oleh bukti-bukti tersebut, John Dewey 1910/1991. Untuk dapat berfikir reflektif, kita harus membiasakan sikap selalu ingin tahu agar pengetahuan yang dimiliki up to date sesuai perkembangan yang terjadi, dan tidak merasa cepat puas terhadap opini yang di dengar sampai mengatahui dasar pemikiran opini tersebut. Dalam hal ini akan membentuk professional skeptism sampai anda mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk meyakininya, sebelum membuat masukan ataupun keputusan.

 

Sebagai seorang pekerja, kemampuan berfikir kritis akan membantu profesionalitas bukan hanya melaksanakan tugas yang diberikan, namun juga mampu mengevaluasi berbagai data dan informasi dari sudut pandang yang beraneka ragam, sehingga output yang dihasilkan dapat menjadi masukan yang penting dalam membantu pimpinan mengambil keputusan. Sedangkan sebagai seorang pimpinan, dengan mengasah kemampuan berfikir kritis akan membantu memahami sensitivitas permasalahan yang dihadapi dengan proposisi pertimbangan yang menyentuh segala aspek yang bersinggungan dengan hal tersebut baik secara langsung, tidak langsung, jangka pendek maupun jangka panjang, yang pada akhirnya menghasilkan keputusan yang tidak hanya tepat, namun memiliki manfaat bagi banyak pihak.

 

 

@OkaFitrio

Referensikan teman kamu