Bahasa Tubuh Pewawancara (1)

Kamis, 15 Juni 2017 | 00:00 WIB
Bahasa Tubuh Pewawancara (1)

Mencari pekerjaan dan menjalani tes seleksi kadang membuat para pelamar menjadi “galau”, setelah melalui beragam rangkaian tes hingga sampai pada tahap wawancara kerja. Ada kalanya pelamar over confident merasa sudah pasti diterima di perusahaan idamannya tersebut, karena merasa dapat menjawab pertanyaan wawancara secara baik. Akibatnya, tawaran pekerjaan lain ditolak. Ada kalanya pula pelamar merasa rendah diri dalam menghadapi tes wawancara tersebut, jawaban yang disampaikan kepada pewawancara dirasa kurang mumpuni untuk meyakinkan pewawancara. Sebaliknya, ketika perusahaan lain menawarkan pekerjaan langsung disetujui. Padahal setelah itu perusahaan idamannya menginformasikan bahwa dirinya diterima bekerja. Kejadian ini sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita dapat memahami sinyal pewawancara ketika melakukan tes seleksi.

Tes wawancara merupakan bagian dari tes seleksi yang memiliki peran utama dalam menentukan diterima atau tidaknya kandidat pelamar. HRD perusahaan baru bisa mengenali kandidat secara penuh dalam proses ini. Lalu apakah dalam rangkaian tes seleksi lainnya pihak HRD tidak mengenali? Pada prinsipnya seluruh rangkaian tes seleksi sampai dengan pelamar tersebut diterima menjadi pekerja dan duduk dijabatannya, merupakan peran HRD Perusahaan. Namun untuk tahap screening (seleksi awal) lamaran, validasi, tes psikologi dan tes lain selain wawancara, seringkali menggunakan jasa pihak eksternal. Selain untuk membagi fokus tugas HRD, penyerahan sebagian pekerjaan kepada penyedia jasa penunjang ini juga untuk menjaga independensi proses seleksi dan meminimalisir kepentingan oknum tertentu dalam proses penerimaan pekerja di perusahaan tersebut.

Dalam tes wawancara ini, pihak HRD akan mengumpulkan kembali data dan informasi kandidat yang akan di wawancara, termasuk hasil tes seleksi yang telah dijalani sebelumnya. Seluruh rangkaian tes ini sebenarnya merupakan satu kesatuan utuh yang akan divalidasi oleh pewawancara. Lalu bagaimana cara pelamar menilai bahwa dirinya memiliki potensi besar untuk lulus tes sehingga tidak merasa di “php” (pemberi harapan palsu) ?

Coba perhatikan pola pertanyaan pewawancara. Apakah yang ditanyakan hanya seputar yang sudah tertulis di dalam CV atau menanyakan pengalaman anda dalam menjalani isi CV tersebut. Jika menanyakan pengalaman hidup anda secara detail dan tersetruktur, artinya mulai ada ketertarikan si pewawancara untuk mengetahui diri anda lebih dalam. Logikanya, buat apa menanyakan hal yang sudah tertulis di CV padahal dapat dibaca disana?

 

Menjawab pertanyaan pewawancara jangan hanya mengatakan secukupnya, misal “iya betul Pak” atau “oh bukan Bu”, berikanlah kesan yang mendalam tentang diri anda secara lengkap dan paparkan prestasi yang anda raih dalam CV tersebut dimulai dari perjuangan/cara mendapatkannya. Jika anda bisa membangun kesan mendalam dan membuat pewawancara fokus terhadap anda seutuhnya (tidak main HP atau bolak balik form evaluasi), artinya anda bisa menguasai keadaan diruang wawancara tersebut.

-bersambung-

@OkaFitrio

Referensikan teman kamu