Saat Bekerja, “DUIT” Memang Berkuasa

Kamis, 18 Mei 2017 | 00:00 WIB
Saat Bekerja, “DUIT” Memang Berkuasa

Masuk dunia kerja dan mengembangkan karier pada perusahaan idaman adalah impian sebagian besar para lulusan sekolah/perguruan tinggi. Dalam suatu proses seleksi kerja ataupun seleksi promosi jabatan, jumlah pesaing untuk memperebutkan hal tersebut sangat banyak, sampai-sampai harus melalui beberapa tahapan yang panjang agar proses seleksi tersebut menjadi semakin objektif. Pernahkah anda mengalami kondisi persaingan dimana pesaingnya adalah anak/saudara dari seorang pimpinan pada instansi tersebut? Sebagian besar anda pasti merasa curiga bahwa anak/saudara tersebut pasti akan mengalahkan anda bukan karena kemampuan teknisnya, melainkan karena hubungan kekeluargaan tadi.

 

Sekarang bagaimana kalau anda dalam posisi anak/saudara tersebut, disatu sisi jika anda lulus seleksi pasti akan bangga, namun disisi lain akan dicurigai oleh para pesaing bahwa kesuksesan tersebut bukan karena kerja keras anda, melainkan bantuan kerabat yang menjadi pimpinan disana. Lalu jika anda tidak lulus pasti akan sedih karena sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kegagalan tersebut tidak serta merta membuat para peserta seleksi lainnya menilai proses tersebut murni objektif. Artinya, menanamkan rasa curiga kepada pesaing anda merupakan suatu hal negatif yang tidak memiliki nilai tambah bagi diri anda. Bisa jadi prasangka anda terhadap pesaing tersebut salah, kenapa anda tidak coba membuka komunikasi yang baik? sebab persaingan itu hanya event situasional, yang sebenarnya dapat dibina untuk professional networking anda.

 

Dalam menghadapi proses seleksi di dunia kerja, baik seleksi masuk kerja ataupun seleksi promosi jabatan, yang perlu dilakukan adalah fokus terhadap diri sendiri (tidak perlu mengurusi/curiga kepada orang lain) dan melakukan persiapan yang matang sesuai dengan yang dipersyaratkan pada tes seleksi tersebut. Seperti yang sudah seringkali kita dengar, kunci  keseuksesan  adalah "DUIT" yang terdiri atas Doa, yakni memohon dengan niat yang kuat melalui berdoakesu sebelum melalui rangkaian tes. Usaha/Ikhtiar, yakni kesungguhan dalam persiapan sampai dengan menjalani rangkaian tes secara sungguh-sungguh, termasuk mendayagunakan seluruh kemampuan diri untuk mencapai kesuksesan. Tawakal, yakni berserah diri setelah melakukan segala daya dan usaha dalam menjalani rangkaian tes tersebut.

 

Ketika sedang menjalani tes seleksi, anda harus berfikir positif terhadap kemampuan diri sendiri sehingga semakin percaya diri menggapai hal yang diinginkan. Dengan “mengajak” pikiran anda berfikir positif, berarti anda menggerakan seluruh potensi diri untuk menggapai tujuan yang telah anda niatkan/cita-citakan sejak awal. Sebaliknya jika anda berfikir negatif, tidak percaya diri (merasa pesimis) apalagi dengan melihat banyaknya pesaing, yang pada akhirnya menjadi “kalah sebelum bertanding”.

 

 

@OkaFitrio

Referensikan teman kamu