Refleksi Perempuan Bekerja dalam International Woman Day

Selasa, 21 Maret 2017 | 00:00 WIB
Refleksi Perempuan Bekerja dalam International Woman Day

 

Aku lebihkan dua hari di Pulau Dewata ini setelah acara seminar internasional di sebuah resort berakhir, hanya saja aku pindah penginapan yang lebih ramah terhadap uang saku. Memilih Ubud sebagai destinasi solo travelling adalah hal yang menarik dalam benakku. Masih terbayang dengan jelas novel salah satu penulis terkenal   ber-setting Bali, yang akhirnya jadi best seller, masuk dalam kancah layar lebar dengan jutaan penonton.

Aku mencari penginapan di sekitar pasar Ubud, salah satu rumah yang disewakan oleh warga. Jalan-jalan di daerah ini menjadi pilihan yang menyenangkan, apalagi Ubud masih sangat kental dengan tradisi Bali. Suatu malam sempat ibu pemilik rumah bercerita bahwa dirinya pulang dari hotel tempatnya bekerja. Ia bekerja sampai jam 10 malam dan akan tidur sekitar jam 1 malam kemudian bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan perlengkapan sembahyang di Pura setiap pagi.  Mendidik anak dan menyelesaikan semua pekerjaan pribadi lalu berangkat ke tempat kerja menjadi aktivitas kesehariannya.

Begitulah cerita panjang perempuan paruh baya yang aku dengar malam itu dengan penuh penerimaan atas dirinya. Sebelum menutup pintu karena sudah hampir jam 12 malam, perempuan itu menyampaikan selamat istirahat.  Pagi berikutnya aku memutuskan ke pasar Ubud dan melanjutkan keliling ke semua destinasi di Ubud. Seorang perempuan cantik dengan baju adat membawa nampan di kepalanya. Kuamati dari jauh ia berhenti di persimpangan jalan dan mengambil isi nampan lalu meletakkannya di sana. Sesaji.

Jarak 30 meter, mataku masih tertegun melihat perempuan membawa ember besar di kepalanya, ternyata dia bekerja menjadi kuli bangunan. Tidak lebih dari 5 menit kulihat segala aktivitasnya. Seperti seorang artisan yang membuat "kue" dengan segala adonannya:  semen, pasir, dan air. Dua hari itu perjalananku selalu berjumpa dengan perempuan-perempuan mengagumkan, jauh dari yang aku bayangkan sebelumnya.

Mereka adalah ibu bagi anaknya, istri bagi suaminya, dan tulang punggung bagi keluarganya.

 

itulah kenangan perjalanan yang aku dapat mengenai perempuan dalam agenda di resort mahal mengenai Human trafficking, acara yang dihadiri oleh beberapa pemenang CNN Heroes. Pengakuan kesetaraan perempuan, bukan aku dapati dalam seremonial intelektual. Melainkan dalam sebuah tayangan kehidupan sehari-hari. Terimakasih semesta karena memberikan ku kepekaan untuk menghayati kemuliaan dan keikhlasan perempuan dalam menjalani kehidupan demi orang yang mereka cintai.

 

@VentySeine

Referensikan teman kamu